Menu Utama arrow Publikasi arrow Siaran Utama arrow 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Baru 3% Penduduk Indonesia Lulus Pendidikan Tinggi
Untitled Document
100 Tahun Kebangkitan Nasional, Baru 3% Penduduk Indonesia Lulus Pendidikan Tinggi
Jakarta, 1 Mei 2008 – Setelah hampir 100 tahun Bangsa Indonesia mendeklarasikan Kebangkitan Nasional, belum banyak masyarakat Indonesia yang bisa menikmati pendidikan bila dibandingkan negara-negara tetangga. Sebagai contoh, hanya sekitar 3% penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikan tinggi (S1) sementara Thailand telah mencapai 15%, Malaysia 28%, dan Filipina bahkan telah mencapai 40%.

Membahas perjalanan panjang pendidikan Indonesia, Sampoerna Foundation mengundang pakar pendidikan, Mochtar Buchori dan Ahmad Rizali untuk mendiskusikan perjalanan pendidikan di Indonesia sejak 1908 -2008 di Kantor Sampoerna Foundation, Rabu(30/4).

Pada diskusi tersebut, Mochtar Buchori menyatakan bahwa tahun 1908 merupakan titik awal kebangkitan pendidikan Indonesia. Pernyataan ini berangkat dari fakta sejarah bahwa pada tahun tersebut untuk pertama kalinya pendidikan Indonesia dipegang oleh para cendikiawan yang bersifat liberal dan progresif dengan didirikannya organisasi Boedi Oetomo.

Pendirian Boedi Oetomo, menurut Mochtar, merupakan hasil dari sebuah proses panjang, sejak ditetapkannya kebijakan pemerintah kolonial Belanda, di tahun 1870,  untuk mengirim pemuda-pemuda Indonesia ke Belanda guna mengenyam bangku perkuliahan di Negeri kincir angin tersebut. “Hal tersebut merupakan bukti pertama bahwa proses peningkatan kualitas pendidikan merupakan sebuah investasi jangka panjang untuk menghasilkan buah yang diinginkan, oleh karena itu bila kita menginginkan adanya perubahan, reformasi pendidikan harus dimulai dari sekarang,” jelas Mochtar.

Reformasi pendidikan yang dimaksud adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dan menekankan nilai-nilai moral pada setiap siswa yang jumlahnya akan terus bertambah setiap tahun, seiring dengan perluasan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Ditambahkan oleh Ahmad Rizali bahwa keterlibatan semua pihak adalah sebuah hal yang mutlak dalam reformasi pendidikan, “Perbaikan pendidikan adalah sebuah permasalahan bangsa dan bukan semata-mata merupakan tugas dari pemerintah,” ungkap Ahmad Rizali.

Menegaskan hal tersebut, Sampoerna Foundation menyelenggarakan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional melalui Parade Kebangkitan Pendidikan pada 18 Mei 2008 di Silang Monas Barat Daya. Tujuan parade ini adalah menggalang perhatian dari masyarakat luas mengenai pentingnya keterlibatan semua pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.  

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.