Untitled Document
Kontribusi Perguruan Tinggi Mencetak Wirausaha Terdidik
(Swa: 29-11/06/08) Suksesnya wirausaha muda di belakang Google, You Tube dan Facebook telah menginspirasi anak-anak muda di dunia memilih profesi bisnis sebagai karier mereka. Perkembangan internet dari platform teknologi Web 1.0 (demokratisasi akses) ke Web 2.0 (demokratisasi akses dan partisipasi) membuat peluang yang demikian besar bagi setiap individu untuk melakukan bisnis. Itu sebabnya, Karl Schramm menyebut sekarang ini sebagai era kapitalisme wirausaha (entrepreneur capitalism).

Sebagai gambaran saja, terdapat 83 juta pengguna aktif eBay yang melakukan transaksi jual-beli selama tahun 2007, dengan total pengguna yang terdaftar sebanyak 135 juta. Lalu, sekitar 500 ribu pengguna aktif Second Life juga menghabiskan US$ 1 juta setiap harinya. Situasi inilah yang menginspirasi lebih dari 70% lulusan sekolah menengah di Amerika Serikat memilih karier menjadi wirausaha. Kebetulan pula, secara bersamaan sejak 2006, lebih dari 2.100 perguruan tinggi di AS menawarkan program kewirausahaan (entrepreneurship). Padahal, di tahun 1990-an, baru ada 400 perguruan tinggi yang menawarkan program serupa.

Anehnya, keadaan di AS bertolak belakang dengan situasi di Indonesia. Sampai sekarang ini masih ada keengganan lulusan perguruan tinggi memilih profesi sebagai wirausaha. Profesi ini dianggap kurang bergengsi dibanding bekerja di pemerintahan atau di perusahaan. Di samping itu, metode pembelajaran yang dikembangkan di kampus pada umumnya juga tidak memberi mahasiswa ruang untuk berpikir lebih kreatif, inovatif dan mengambil risiko. Akibatnya, memicu tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi.

Bayangkan saja, menurut H.A.R. Tilaar, terdapat 740 ribu lulusan perguruan tinggi yang tidak memperoleh pekerjaan di tahun 2007. dibutuhkan reorientasi terhadap lulusan perguruan tinggi dari nuansa pencari kerja (job seeker) ke nuansa pencipta kerja (job creator). Melihat data itu, perguruan tinggi perlu mulai berbenah diri untuk menjawab tantangan. Pasalnya, perguruan tinggi mempunyai peran yang signifikan dalam mengahasilkan wirausaha terdidik, yakni wirausaha yang mempunyai potensi menciptakan paling sedikit 20 pekerjaan dalam lima tahun ke depan.

Wirausaha terdidik diharapkan menjadi motor dari perubahan, kemajuan dan kebangkitan perekonomian nasional. Mereka tidak hanya mampu menjawab persoalan bangsa., melainkan juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Wirausaha terdidik mempunyai visi yang kuat dalam membangun bisnis dan lingkungannya. Mereka adalah pebisnis yang selalu berusaha mencari celah untuk tumbuh dan berkembang. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, mereka mampu melihat dan menganalisis peluang dan mewujudkannya dalam keputusan-keputusan bisnis.

Sejarah membuktikan bahwa masyarakat yang maju mempunyai karakteristik kewirausahaan yang kuat. Mereka merepresentasikan mesin pertumbuhan utama yang mampu mengubah masyarakat yang belum berkembang menjadi masyarakat modern, dinamis dan sejahtera. Korea Selatan adalah salah satu contoh bagaimana wirausaha mampu mengubah dari negara yang tidak diperhitungkan menjadi negara maju. Kor-Sel di tahun 1960-an hanya memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sekitar  US$ 80, setara dengan Ghana dan Sudan. Dalam waktu 30 tahun, PDB per kapitanya sudah mencapai US$ 10 ribu, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 8, 6%. Kemajuan yang dicapai Kor-Sel tidak lepas dari adanya prolifetasi mind set wirausaha.

Pertanyaannya, bagaimana merancang proses pembelajaran yang membuat mahasiswa memiliki karakter kewirausahaan? Ada tiga karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha, yaitu keinovatifan (innovativeness); pengambilan risiko (risk taking); dan keproaktifan (pro-activeness). Ketiga karakter utama ini dapat diasah melalui beberapa intervensi dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, mahasiswa dilatih untuk menggunakan beberapa gagasan yang nampaknya tidak berhubungan untuk menyolusi persoalan yang dihadapi. Mahasiswa dipaksa untuk berani keluar dari aturan yang seharusnya, menggunakan informasi yang sangat terbatas, dan memanfaatkan apa yang dipelajari untuk mendapatkan solusi yang inovatif.

Di samping memiliki karakter yang kuat, seorang wirausaha yang terdidik harus pula memiliki keterampilan bisnis. Action learning menekankan proses pembelajaran melalui aktivitas. Pendekatan ini merupakan kombinasi dari pembelajaran P dan Q. Pendekatan P menekankan pada pengetahuan yang ada, seperti data, teori dan solusi permasalahan yang pernah ada, sebagai sumber modal pembelajaran. Adapun pendekatan Q menekankan pada asumsi dari setiap alternatif yang diajukan, karena tidak ada solusi sebelumnya terhadap suatu permasalahan.

Dengan demikian, action learning tidak hanya menekankan pada pengalaman yang diperoleh ketika menjalankan suatu kegiatan. Melainkan, memiliki pula dasar pengetahuan yang kuat sebelum menjalankan kegiatan itu. Mahasiswa tidak hanya terampil dalam memilih konsep mana yang hendak digunakan dalam menyolusi permasalahan, tetapi juga dapat memperkaya pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Wirausaha terdidik juga harus memiliki kepekaan sosial (social awareness). Mereka harus menyadari bahwa setiap usaha yang dijalankan bisa bertahan dan berkembang jika lingkungan sosialnya pun berkembang. Untuk melatih kepekaan sosial, mahasiswa dapat diterjunkan ke pedesaan guna menyolusi permasalahan sosial, seperti membuat program pengembangan usaha mandiri, memberi pelatihan, keterampilan pengelolaan keuangan dari manajemen mutu serta membantu pengembangan jalur distribusi produk pertanian.

Agus W. Soehadi
Direktur Program S1 Prasetya Mulya Business School

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.