Menu Utama arrow Publikasi arrow Media Coverage arrow Disusun, Kurikulum Transnasional Eropa-Asia
Untitled Document
Disusun, Kurikulum Transnasional Eropa-Asia

BANDUNG, KOMPAS – Uni Eropa dan Asia akan memiliki standar kurikulum transnasional pendidikan keguruan di bidang vokasional. Rancangan rambu-rambu kurikulum tersebut tengah dibahas bersama oleh 25 negara peserta dalam Kongres I Pendidikan Guru Bidang Vokasional Tingkat Dunia di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, 21-23 Juli ini.

Program yang diinisiasi EU-Asia Link ini diorganisasi empat lembaga, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI (Indonesia), Universitaet Bremen (Jerman) University Autonomia de Barcelona (Spanyol), dan Universiti Tun Hussein Onn (Malaysia). Proyek yang dirintis sejak 2006 ini memiliki target utama melahirkan standar kurikulum pendidikan kegururan bidang vokasional yang akan diterapkan bersama di Uni Eropa dan Asia.

 Seketaris Umum Panitia Kongres I Pendidikan Guru Bidang Vokasional Tingkat Dunia Prof Aminudin Azis, Senin (21/7), mengatakan, jika standar kurikulum ini tercipta, otomatis nantinya akan ikut mengangkat kualitas pendidikan kejuruan di Asia. Menyamai atau setidaknya ikut mendekati standar kurikulum di Uni Eropa yang lebih dulu maju. Di Eropa, pendidikan’ kejuruan menjadi penopang industri melalui kehadiran tenaga terampil yang andal.

 “Dengan sendirinya akan mengankat standar di Indonesia. Lewat standardisasi ini, ke depan, bisa transfer kredit jika ada mahasiswa yang mau melanjutkan pendidikan di Eropa,” tuturnya.

Riset Bersama
Dalam kongres internasional ini, ungkapnya, dipaparkan berbagai hasil riset bersama tentang standar kompetensi keguruan vokasonal. Dipaparkan juga pengalaman penerapan kurikulumnya di 25 negara peserta. Akan ada deklarasi bersama dari hasil kongres ini nantinya.

Ketua Proyek EU-Asia Link Georg Spttl menuturkan, tidaklah mudah membuat suatu acuan standar kurikulum pendidikan keguruan dan pelatihan bidang vokasional ini mengingat begitu beragamnya unsur budaya dan sosial yang mengikat di negara masing-masing, khususnya Asia. “Jadi, standardisasi kurikulum itu nantinya hanya mencakup inti, yaitu batas minimal kurikulum yang memadai. Standar itu khususnya mengenai teknologi yang digunakan,” ujarnya.

Rektor UPI Prof Sunaryo Kartadinata mengatakan, kurikulum transnasional yang akan dihasilkan nantinya diproyeksikan untuk mengantisipasi tantangan dan kebutuhan di masa mendatang. Karena itu, formulasi ide yang muncul dalam kongres ini pun diharapkan bisa menghasilkan formulasi konkret. (JON)

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.