| Ledakan Jumlah Penduduk Mencemaskan |
|
Program Keluarga Berencana Diabaikan Ledakan jumlah penduduk ini akan berdampak luas terhadap penyediaan anggaran dan fasilitas kesehatan, pendidikan, serta ketersediaan pangan. Ledakan jumlah penduduk ini pun akan berdampak terhadap pemenuhan gizi bayi serta meningkatnya angka pengangguran. ”Jika penduduknya berkualitas, tidak menjadi masalah. Namun, jika kualitasnya rendah, akan menjadi beban bagi negara dan masyarakat,” kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief di Jakarta, akhir pekan lalu. Dari aspek kesehatan, misalnya, biaya imunisasi akan meningkat dari Rp 791,6 milliar pada tahun 2008 menjadi Rp 1,4 triliun pada tahun 2015. Begitu pun untuk pangan, menghitung rata-rata konsumsi beras 139,15 kilogram per kapita setiap tahun, pada tahun 2025 ketika jumlah penduduk Indonesia mencapai 273 juta jiwa, proyeksi kebutuhan beras sebanyak 38,85 juta ton. Dengan kata lain, Indonesia memerlukan tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau naik 15 persen dari total produksi beras sekarang yang mencapai 33 juta ton. ”Jelas, ini merupakan masalah serius bangsa,” kata Kepala badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Achmad Suryana. Dari segi pendidikan, anggaran operasional pendidikan dasar di perkirakan akan melonjak dari Rp 100,3 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 187,4 triliun pada tahun 2015. Penganggur mengancam
Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Suahasil Nazara mengingatkan, ledakan jumlah penduduk akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah pengangur apabila tidak disertai dengan pembukaan lapangan kerja. Padahal, saat ini sudah sekitar 10 juta orang menganggur, sedangkan pertumbuhan ekonomi terjadi di sektor-sektor yang tidak menyerap banyak tenaga kerja. Di Provinsi Riau, umpamanya, dalam kurun 2000-2005, rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 4,05 persen. Jika tahun 1990 penduduk Riau hanya 2,7 juta jiwa, pada tahun 200 menjadi 3,7 juta jiwa, dan tahun 2008 mencapai 5,07 juta jiwa. ”Tidak dapat dimungkiri, factor peluang ekonomi menjadi daya tarik migrasi,” kata Kepala Bidang Status Social Badan Pusat Statistic Riau Rufiansyah Putera. Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ascobat Gani mengingatkan selain persolaan baby booming di tahun 2025, ancaman kemiskinan dan gizi buruk, Indonesia akan menghadapi persoalan penuaan (aging). ”Akan ada 20 juta orangtua yang membutuhkan layanan yang canggih dan mahal yang berbasis rumah sakit, dan tidak mungkin ditangani di puskesmas. Mereka juga perlu doktor spesialis karena menghadapi penyakit degeneratif. Itu akan menarik anggaran, sementara kita juga menghadapi baby booming<” kata Ascobat menjelaskan.
Komitmen memudar ”Setelah Orde Baru, Badan KB hanya nempel saja di badan lain, seperti urusan pemakaman, catatan sipil. Tidak ada kepedulian pemeerintah kabupaten atau kota,” kata Sugiri.
Itulah sebabnya, jumlah serta program KB cenderung turun dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Begitu juga presentase peserta KB baru dengan pasangan usia subur cenderung mengalami penurunan. Jika tahun 1998 persentase peserta Keluarga Berencana baru mencapai 70,4 persen, tahun 2006 hanya 69,6 persen. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






