Menu Utama arrow Publikasi arrow Media Coverage arrow Sekolah Darurat Dilaksanakan di Tenda
Untitled Document
Sekolah Darurat Dilaksanakan di Tenda

Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat: 02/06/06) Sekolah darurat dengan tenda rencananya akan didirikan di setiap sekolah yang mengalami kerusakan. Jumlahnya akan disesuaikan dengan jumlah sekolah yang rusak, kapasitasnya sesuai jumlah siswa. Sedangkan sekolah yang berdekatan dengan sekolah yang masih bagus dan aman, akan digabung untuk melaksanakan pendidikan bersama. Saat ini tenda baru dicarikan sesuai dengan kapasitas siswa yang ada.

Untuk langkah awal, pihaknya akan menyembuhkan trauma guru dan siswa pasca gempa. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan DIY Drs Sugito MSi kepada KR Kamis (1/6) saat menjelaskan rencana Dinas Pendidikan untuk segera mendirikan sekolah darurat dan pelaksanaan pembangunan sekolah. ”Yang jelas saat ini kami sedang melakukan nego, dan koordinasi dengan berbagai lembaga, kapan dapat segera mendirikan tenda sekolah darurat dan membangun sekolah,” kata Sugito.

Menurutnya, pembangunan sekolah saat ini juga sudah dibicarakan dengan Unicef, Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/kota. Perencanaan terus digodok sampai final, karena hal ini memang harus secepatnya diselesaikan. Begitu juga dengan santunan bagi guru dan siswa yang meninggal. Rencananya, pemerintah pusat, propinsi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) siap membantu dalam hal ini. ”Kami sedang membicarakan semuanya, agar semuanya dapat tertangani dengan baik dan cepat,” kata Sugito.

Berdasarkan data dari Posko gempa bumi Dinas Pendidikan DIY, 1 Juni 2006 pukul 09.00, jumlah bangunan sekolah yang rusak terus bertambah, yaitu mencapai 1.470 sekolah, baik SLB, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK termasuk Perguruan Tinggi. Sedangkan jumlah korban juga bertambah,mencapai 222, yang terdiri dari 108 meninggal meliputi, 24 guru, 2 karyawan dan 82 siswa, 80 luka berat, dan 34 luka ringan.

Sementara itu di Klaten, kegiatan belajar mengajar di SMP 1 Prambanan dan SMP 2 Gantiwarno Klaten mulai Kamis (1/6) telah dimulai di kelas-kelas tenda yang dibangun Yayasan Sampoerna Foundation (YSF). Meski dari 2 tenda hanya bisa dilaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk 4 kelas, itupun tidak utuh diikuti peserta didik. Namun sekolah yang semula memiliki 18 kelas dengan 716 siswa itu bisa diselenggarakan dalam 2 shift

Kegiatan belajar mengajar yang baru pertamakali dilaksanakan pasca gempa dan dilangsungkan di tengah kekhawatiran gempa susulan itu juga hanya diselenggarakan sekitar 2 jam. Sekitar pukul 11.00, suasana tenda di SMP 1 Prambanan tersebut sudah lengang, karena kelas telah bubar. Ketika kami berkunjung, kami tinggal menemukan sekolah tenda sudah bubar karena anak didik sudah pulang.

Communication Director Sampoerna Foundation (SF), Sapto Handoyo Sakti mengemukakan, pihaknya memberikan fokus perhatian pasca bencana ini untuk jangka panjang, utamanya di bidang pendidikan. ”Kami berharap agar situasi tanggap darurat ini hanya sebentar saja. Sehingga pemulihan yang lain bisa segera dilaksanakan,” tambah Sapto yang didampingi staf Hendri Satrio dan para mahasiswa penerima beasiswa dari SF.

Kami, jelas Sapto, memilih fokus pendidikan yang memang menjadi concern kegiatan kami selama ini. Karena itulah, SF bekerjasama dengan NGO Internasional sedang mengupayakan penghilangan trauma dengan mengajak anak kembali ke sekolah. Diakui, hal ini bukan merupakan pekerjaan gampang. Bukan hanya karena sekolah yang rusak namun juga kondisi psikologis siswa yang belum semua pulih.

Kondisi SMP 1 Prambanan Klaten itu sendiri, rusak berat. Meski demikian, 30% papan tulis dan 50% meja kursi masih bisa dipergunakan sehingga bisa dimanfaatkan untuk kelas tenda. Selain tambahan tenda besar untuk kelas, jelas Sapto Handoyo, siswa di sini sangat memerlukan adanya buku pelajaran tahun ajaran 2006/2007 dan buku tulis bagi siswa sangat diperlukan untuk belajar, sementara rumah mereka hancur.

 

 

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.