|
Jakarta (Kedaulatan Rakyat: 04/06/06) "MBAK' tolong, di kawasan Semoyo Pathuk Gunungkidul perlu banyak pembalut. Kasihan para perempuan yang sangat memerlukan". Kalimat itu muncul dengan cepat dari Mukhlas kepada temannya. Ia bingung, ketika nyambangi karyawan usaha dengan membawa sembako, ternyata muncul keluhan lain yang tidak terduga. "Tolong ya mbak, lanjutnya, kalau bisa dicarikan." Mukhlas memang mencoba bergerak mandiri. Artinya, ayah seorang anak ini hanya bersama teman-teman dalam kelompok kecil, menjadi relawan mandiri dan terjun langsung ke masyarakat yang tertimpa bencana. "Saya memang tidak ingin bergabung dengan kelompok atau organisasi apapun. Dan saya juga memilih membantu masyarakat di kawasan-kawasan yang terpencil dan belum tersentuh siapapun," ucapnya.
Setiap hari, ia mengantarkan sumbangan teman-temannya dalam bentuk apapun. Ada selimut, sarung, pakaian dalam laki-laki perempuan, pakaian anak, sembako, susu anak dan lainnya. Sementara di rumah, keluarga dan lingkungannya juga membuat nasi bungkus untuk dibagikan pada mereka yang belum mendapatkan bantuan makanan.
Semua dilakukan secara mandiri, bantingan dan juga bantuan kiriman dana dari teman-teman yang muncul secara pribadi. Mereka menolong, membantu dan menyumbang tanpa mengharap ada publikasi, tanpa merasa perlu orang lain harus tahu dan lainnya.
Falsafah ketika tangan kanan memberi, tangan kiri pun tidak tahu menjadi ajaran yang coba diterapkan. Dalam bekerja, mereka juga tidak melakukan pembagian tugas secara rigid kecuali mendata daerah mana yang hendak diberi bantuan, berdasar informasi dari jejaring yang mereka miliki.
Nasi Bungkus
"Bagi saya, cara seperti ini menjadi sangat efektif. Karyawan usaha saya yang tertimpa musibah dan menjadi korban, akan melaporkan langsung. Juga teman atau kenalan. Mereka akan mengungkap apa saja kebutuhan dan berapa jumlah tanpa di-mark-up dan biasanya langsung ke orang," sebut Mukhlas tanpa harus melalui birokrasi berbelit dan juga tidak perlu khawatir tidak sampai pada yang memerlukan.
Tidak sedikit warga masyarakat yang sekarang menjadi sukarelawan secara mandiri dan tiba-tiba. Sekalipun mungkin mereka hanya menolong atau menyalurkan bantuan yang sudah dikumpulkan baik oleh dirinya maupun orang lain. Meski mungkin mereka hanya membuat dan membagi-bagikan nasi bungkus, mengatur lalu lintas di jalan di kawasan yang terkena bencana, yang ada di dapur umum.
Dan jumlah mereka memang tidak sedikit dan seringkali 'terlupakan'. Padahal tidak sedikit di antara mereka yang menjadi korban dari gempa dahsyat beberapa seminggu lalu. Usai terjadinya bencana gempa, telah memunculkan banyak posko. Mulai dari yang ada di wilayah gempa, di instansi-instansi maupun di daerah lain yang terasa aman. Biasanya, memang mereka muncul secara tiba-tiba terutama untuk kepentingan pengumpulan dan distribusi logistik dan dana.
PENANGGULANGAN bencana, sesungguhnya bukan merupakan hal yang tiba-tiba dilaksanakan. Antisipasi, akan lebih baik jika hal tersebut dilaksanakan. "Belajar dari peristiwa Aceh khususnya dan kemudian bencana Jember, Banjarnegara itulah, Muhammadiyah mulai mempermanenkan.
Jika selama ini berada dalam Badan Penanggulangan Bencana tapi tidak Satgas, maka sekarang ada Satgas Bencana yang langsung di bawah Majelis Kesehatan & Kesejahteraan Masyarakat (MKMM ) PP Muhammadiyah," kata Rahmawati SSos MCP, Assistant Program Manager yang mengurusi medis dan operasional.
Dengan jalur yang sudah permanen ini, eksistensi mereka jelas. Penggunaan infrastruktur Muhammadiyah pun menjadi kian kuat. Sesungguhnya, sebut Rahma, sistem ini sudah jalan ketika ada bencana tsunami di Aceh, banjir dan longsor di Jember dan Banjarnegara. Hanya saja, mereka tidak memiliki Satgas dan tidak memiliki data berapa relawan fisik, dapur umum, relawan kesehatan bahkan juga relawan assesment.
Dengan mempermanenkan Satgas Bencana ini, Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang amal langsung di bawah koordinasi MKMM, yang membawahi seluruh rumah sakit, poliklinik dan balai pengobatan serta yang lain. MKMM inilah yang berhak memberikan instruksi dan berkoordinasi dengan wilayah Muhammadiyah dalam memenej.
"MKMM wilayah inilah yang koordinasi rolling dan komando. Artinya, Pusat tinggal menerima dan kebutuhan relawan ditanggung Wilayah. Dalam hal ini, keberadaan relawan ini sekaligus pemberdayaan fakultas kedokteran dan Stikes khususnya yang dimiliki Muhammadiyah. Inilah pelibatan perguruan tinggi," tambahnya.
Kemana dan bagaimana mereka dalam bertugas? Menurut Rahma tentu tidak sembarangan. "Setiap hari dilakukan briefing sekaligus pembagian tugas. Dengan demikian jika ada yang harus evakuasi, ke mana dan berapa orang. Bagaimana yang bertugas di bagian medis, apa kekurangan. Ketika harus ke dapur umum mereka juga sudah mengerti apa menu yang hendak diberikan.
Juga ketika harus mendistribusikan logistik, daerah mana yang belum dan lainnya. Dalam briefing itu sekaligus kami memberikan arahan tentang perilaku relawan. Yah... diberikan terus menerus-lah kode etiknya, sekalipun itu tidak ditulis," tambahnya.
Divisi Eksternal
Sementara Hendri Satrio yang mengkoordinir relawan yang tergabung dari Sampoerna Foundation Student Club (SFSC) mengemukakan, sejak awal sudah menegaskan job-nya bukanlah relawan medis, evakuasi. "Kami concern dengan program jangka panjang, dalam pendidikan," sebutnya. Karena itulah dalam 'pembagian tugas' sejak awal sudah dijelaskan, jika dalam satu tenda kemudian ada 3 relawan.
Ada yang mengurus logistik, makanan dan pendidikan. Untuk relawan pendidikan inilah, mereka bertugas survei ke sekolah-sekolah melihat kondisi fisik, sarana dan prasarana belajar di sekolah tersebut. Sementara sebagai koordinator Hendri membaginya dalam beberapa divisi. Di posko, jelasnya, ada divisi logistik, ada divisi eksternal yang mengurus hubungan dengan donor, SF pusat dan juga Pemda. Kemudian ada divisi lapangan, divisi distribusi dan juga distribusi mencari relawan.
"Kita tidak mengadopsi 100% apa yang kita lakukan di Aceh, usai bencana tsunami. Karena di sana kami betul-betul bergerak untuk relawan pendidikan. Tapi di DIY Jawa Tengah juga ada shelter. Artinya, di DIY ini relawan kami juga menyelenggarakan dapur umum," tambahnya. Maka kalau di Aceh dulu kami juga menerima orang menjadi relawan di DIY menurut Hendri, Sampoerna Foundation (SF) memaksimalkan keberadaan para penerima beasiswa. Karena itulah Hendri mengakui, jika para relawan itu tidak dilatih dulu.
Para Elite
Hanya karena fokusnya ke pendidikan, sejak menjadi anggota SFSC para pelajar mahasiswa tersebut sudah terus menerus diasah kepeduliannya mengenai kondisi pendidikan dan lingkungannya. Dengan kata lain, Hendri ingin menyebut, jika mereka harus menjadi relawan pendidikan, tidak akan kesulitan betul.
Meski demikian tegas ia menyebutkan, sesungguhnya perlu ada pelatihan untuk menjadi relawan. Paling tidak, relawan itu harus dilatih untuk pertama-tama, nguwongke korban sehingga bisa bersikap empati terhadap mereka yang menjadi korban. Selain itu, relawan juga perlu dilatih memenej stres.
"Jangan pernah dibayangkan, menjadi relawan itu mudah. 1-2 hari di lapangan bisa mengalami stres. Bayangkan saja, jika kita sebagai relawan misalnya, belum sampai selesai melakukan sesuatu sudah ada yang lain minta tolong dengan menyebutnya sebagai sangat urgent, apa tidak stres. Barulah setelah itu relawan juga harus dilatih menjaga kesehatan, karena kegiatan dalam mengurus bencana seperti ini bukan hanya sekejap selesai, tapi bisa sangat panjang waktunya termasuk jika masih terlibat dalam recovery," tambahnya.
Untuk itulah, di sela melakukan tugasnya tersebut, relawan yang tergabung dalam SFSC kemarin mendapatkan pelatihan menejemen stres dari Fakultas Psikologi UGM. Dengan demikian, selain bisa membantu mengatasi stres sendiri juga bisa membantu mengurangi stres korban.
Hendri Satrio sendiri tidak pernah mendapatkan pelatihan menjadi relawan. Jika saya terpanggil untuk datang ke Yogya, ke Aceh dulu semata-mata karena saja merasa sebagai orang Indonesia yang memiliki tanggung jawab terhadap bangsa dan negara ini. "Seharusnya jika ada bencana itu memang yang terjun langsung adalah para elite kita atau mereka yang banyak duitnya itu, bukan kita-kita.
Tapi mereka sudah telanjur lebih suka nanti akan ada bantuan dari asing. Dan media pun telanjur akan mempublikasikan besar-besaran keterlibatan orang asing. Saya sedih ketika ada media yang mengungkap dapur umum orang Turki. Bukankah yang dikelola masyarakat kita sendiri banyak," ucap Hendri bernada 'menggugat' media.
|