Menu Utama arrow Media dan Acara arrow Media Coverage arrow Dongeng bantu anak-anak korban bencana untuk lupakan kesedihan
Untitled Document
Dongeng bantu anak-anak korban bencana untuk lupakan kesedihan

Jakarta (The Jakarta Post: 10/06/06) Sekitar 40 anak-anak SD berkumpul di tenda di luar sekolah mereka di Kabupaten Bantu di Yogyakarta yang baru saja dilanda bencana gempa bumi. Anak-anak ini bergantian bertepuk tangan, tersenyum dan bermimik serius ketika mendengarkan nyanyian dan cerita yang disampaikan oleh pendongeng Kak Wess. Mereka masih bisa bernyanyi dan tertawa sejenak setelah gempa yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei, dimana sedikitnya 5,800 orang tewas.

"Inilah yang kami kerjakan dalam dua hari terakhir, mencoba membantu anak-anak untuk mengatasi trauma akibat gempa bumi," kata Erwiati, guru di SDN Sampangan I di desa Wirokerto, pada The Jakarta Post Jumat. Program yang sama juga dijalankan di SD Petir 2 di desa Srimartani, Bantul, dimana pendongeng Joko Maryono membantu para siswa untuk sejenak melupakan apa yang terjadi dua minggu yang lalu.

"Kami kesulitan mengajar mereka menggunakan cara tradisional. Banyak di antara para siswa yang masih berkabung atas kematian keluarganya. Sebagian dari mereka masih harus terpisah dari orangtua yang sedang di rawat di rumah sakit," kata kepala sekolah Mardjono.

SD Petir memiliki 100 siswa, termasuk 40 siswa kelas 6 yang baru saja menyelesaikan ujian akhir Rabu kemarin. Murid-murid yang ada – kelas 1 hingga kelas 5 – masih dijadwalkan untuk mengikuti ulangan pada tanggal 12 Nuni.Ketika para siswa kembali ke sekolah pada hari Kamis, kebanyakan masih terlalu mengalami untuk mengikuti pelajaran.

Menurut Mardjono, sekitar 90 persen dari siswanya kehilangan rumah dalam bencana gempa bumi ini.
Pada hari Jumat, hanya 40 siswa yang muncul di kelas. "Kami telah mengungjungi mereka dan mencoba membujuk mereka untuk kembali ke sekolah. Tetapi mereka masih belum munculjuga hari ini (Jumat). Saya tidak tega untuk memaksa mereka datang, setelah apa yang menimpa mereka. Moga-moga mereka sudah siap untuk ujian nasional pada hari Senin,”  kata Mardjono.

Nyanyian, dongeng dan permainan dirancang untuk membantu siswa mengatasi rasa takut dan mempersiapkan mereka untuk mengikuti ujian minggu depan.Kak Wess dan Joko Maryono hanyalah dua dari banyak relawan yang mencoba membantu anak-anak untuk menghadapi tragedi. Mereka bekerja sama dengan Cabang Yogyakarta dari Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC).

Menurut koordinator SFSC Yogyakarta, Septima Nurlailia, kelompok ini telah menjalankan program yang sama di empat tempat, dua di Bantul dan dua lagi di Klaten, Jawa Tengah. Di setiap lokasi, kelompok ini menjalankan sebuah dapur umum, dan penampungan sementara bagi para korban bencana, semua supplainya ditanggung oleh Sampoerna Foundation.

Sebuah tenda juga didirikan di setiap lokasi dimana para relawan SFSC membantu anak-anak untuk mengatasi perasaan dan emosi serta mempersiapkan mereka untuk kambali ke sekolah. "Selama liburan panjang setelah ujian, kami berencana untuk mendirikan ‘ruang anak-anak’ (children's corners) di beberapa tempat untuk membantu anak-anak mengatasi perasaan mereka," kata Hendri B. Satrio dari Sampoerna Foundation.

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.