Untitled Document
Apa pun Dilakukan demi Sekolah Negeri Favorit

Bandung (Pikiran Rakyat: 13/06/06) BULAN Juli merupakan bulan penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Betapa tidak, semua masyarakat baik yang kaya maupun yang miskin, dihadapkan pada satu kebutuhan yang sama, memasukkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada bulan inilah, ewuh pakewuh segala kepentingan "bermain". Seluruh jenjang pendidikan dari program pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi (PT) membuka penerimaan siswa baru (PSB) untuk pendidikan tingkat dasar menengah (dikdasmen) dan sistem penerimaan mahasiswa baru (SPMB) untuk pendidikan tingkat perguruan tinggi negeri (PTN).

Kenapa ewuh pakewuh? Cobalah tanya kepada kepala sekolah sebuah SD favorit di Bandung, pastilah dengan malu hati dan meminta off the record ia akan menunjukan deret nama pejabat yang "menitipkan" anak-anaknya agar dapat masuk ke sekolah favorit tersebut. Itu baru tingkat SD. Belum tingkat SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Konon, agar tidak pusing memenuhi permintaan ini, sejumlah pengelola lembaga pendidikan tertentu akhirnya menyediakan "kuota khusus" untuk jalur "titip-menitip" ini setiap tahun.

Untuk tingkat PTN, modus operandi semacam ini memang agak sulit dideteksi. Walaupun sebenarnya ada, tetapi tidak demikian halnya di tingkat dikdasmen. Bila cara ini sulit disiasati pada awal masuk PSB, cobalah amati aktivitas sekolah pada awal semester kedua. Dipastikan banyak siswa yang pindah ke sekolah favorit. Tidak tanggung-tanggung, sebuah sekolah negeri favorit bisa mematok uang masuk jalur tengah semester ini sampai Rp 7 juta - Rp 10 juta!

Itulah sebabnya, Disdik Kota Bandung mulai tahun ajaran baru 2006/2007 ini melarang perpindahan sekolah pada semester kedua. Selain cara-cara ini dapat menguntungkan pihak-pihak tertentu, siswa-siswi yang pindah sekolah ini prestasinya tertinggal jauh dengan siswa-siswi yang masuk lewat jalur yang menggunakan passing grade PSB.

Namun, seperti pepatah mengatakan, ada gula, ada semut. Ada peluang, ada pemanfataan. Begitu juga dalam soal "titip-menitip" ini. Demi terpenuhinya ambisi, segala cara dilakukan. Yang penting masuk sekolah negeri favorit! Sebab bila itu dapat diraih, maka akan menjadi "paspor" bagi sekolah negeri favorit pada jenjang berikutnya. Siapa yang tidak bangga punya anak lulusan sekolah negeri atau perguruan tinggi negeri terkenal!?

Padahal, bila dilihat dari tingkat pendapatan ekonomi, umumnya para orang tua ini cukup mampu untuk mendanai putra-putrinya masuk sekolah swasta bagus dan mahal sekalipun! Tapi, mengapa masih harus mengejar sekolah negeri favorit dengan cara kasak-kusuk seperti ini? Apa tujuan pendidikan yang sesungguhnya, bila input pendidikan sudah seperti ini? 
 

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.