|
Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat: 27/06/06) “AYO... Semua harus hati-hati. Jangan sampai terjebak, yang lain membantu!” Instruksi itu hampir selalu terdengar, di setiap kelompok. Masing-masing kelompok berusaha menyelesaikan tantangan dengan tetap bekerja sama. Kerja sama dan kekompakan kelompok, menjadi salah satu kunci sukses kelompok untuk melewati pos darurat.
Pos darurat, merupakan sebuah game untuk mengajak bagaimana sebuah kelompok anak-anak peserta outbond melewati jaring-jaring yang dipasang. Tanpa ada strategi, tanpa ada perencanaan yang didiskusikan dan tanpa ada kerja sama yang kompak, mustahil pos tersebut akan dilalui dengan lancar.
Sekalipun baru sekali mengikuti kegiatan, tapi anak-anak pelajar SMP 1 Prambanan itu bukan hanya menjadi riang tetapi juga mencoba menemui tantangan. Kegiatan yang mengajak anak-anak untuk menghadapi tantangan bersama, bertoleransi dan sejenisnya apalagi ketika menghadapi masalah termasuk bencana.
“Ini memang melatih anak-anak ketika menghadapi tantangan,” sebut Anisa dari Sampoerna Foundation (SF) usai pelaksanaan outbound, Kamis (22/6). Dengan kegiatan di alam, bukan hanya mengajak anak-anak berkenalan dan bersahabat dengan alam namun juga membuat mereka bisa belajar hidup bersama orang lain. Di sinilah sesungguhnya, sebut Anisa, toleransi, kerja sama, menerima pendapat orang lain untuk menentukan pilihan, leadership seseorang akan diuji.
Belajar hidup dan pelajaran hidup, itulah yang mereka pelajari dengan outbond. Mungkin, cara-cara menyelesaikan masalah itu tidak pernah didapatkan di kelas atau di rumah. Tuntutan kurikulum yang padat, kesibukan orangtua atau ketidak mengertian bahwa hidup pun harus dipelajari, menjadi di antara penyebabnya. “Karena itulah, kami senang belajar diselingi seperti ini,” papar Endang dengan tersipu.
Sekitar 240 pelajar SMP 1 Prambanan Klaten, kemarin mencoba ‘melupakan’ sejenak kesedihan hati karena tempatnya belajar hancur total diterjang gempa. Hari itu, mereka sengaja datang lebih pagi dan mengenakan seragam olahraga ketika datang dan berkumpul di Lapangan Kempul, sekitar 3 Km dari lokasi sekolah. Dengan dibantu relawan dari mahasiswa KKN UGM, anggota Sampoerna Foundation Shoolars Club (SFSC) mengajak anak-anak mengikuti kegiatan outbond tersebut.
Tidak sekadar berjalan kaki 3 Km menuju sekolah. Namun belajar sopan santun di jalan raya, menghormati pengguna jalan yang lain, mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan, mengisi waktu kosong hingga belajar memecahkan masalah, dipelajari dalam perjalanan tersebut.
“Karena itulah dibuat 3 pos yakni pos terowongan seru, pos panjang dan pos darurat,” sebut Anisa. Lewat pos-pos itulah siswa yang dibagi dalam 24 kelompok - dimana setiap kelomok 10 orang - akan dilihat dan dinilai. Mulai dari kerja sama, kekompakan, kemampuan menyelesaikan masalah, strategi yang dilakukan dan lainnya.
Tak heran, ketika teriakan: “Jangan sampai lepas. Pegang terus, buat cara supaya lebih panjang”, pun muncul di pos panjang, di tengah sorak-sorai. Setiap kelompok sedang berusaha lebih panjang daripada kelompok yang lain, dengan pelbagai gaya dan cara. “Tadi kami mencoba memikirkan bersama, agar bisa lebih panjang, mengalahkan yang lain,” papar Budi, salah seorang peserta.
Tentu saja, dalam permainan itu mereka tetap mengedepankan sportivitas. Seperti dikemukakan Anisa setelah usai permainan, hanya mereka yang biasa bermain sportif-lah yang akan berhasil dalam kehidupan ini. Karena itu, tidak curang, fair dalam bermain dan menghormati kemenangan pesaing, menjadi kunci untuk sukses dalam hidup masa depan.
“Sementara, kekompakan, kerja sama, toleran, menghargai pendapat orang lain menjadi kunci sukses hidup bersama orang lain. Dan semua ini bisa dipelajari. Sehingga ketika ada bencana, akan ada rasa senasib sepenanggungan,” tambahnya.
|