Menu Utama arrow Publikasi arrow Media Coverage arrow Belajar di Tengah Reruntuhan
Untitled Document
Belajar di Tengah Reruntuhan

Jakarta (Media Indonesia: 29/06/06) BENCANA gempa bumi dahsyat yang menimpa Yogyakarta dan Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, ternyata menimbulkan trauma bagi anak-anak korban gempa. Banyak pihak termasuk lembaga swadaya masyarakat seperti Sampoerna Foundation (SF) yang bergerak di bidang pendidikan, merasa tergerak dan terpanggil untuk memikirkan hal tersebut. Rabu 22 Juni, cuaca di Yogyakarta tampak cerah. Serombongan anak muda menyapa ramah kedatangan Media Indonesia saat menjejakkan kaki di pelataran beranda Hotel Ambarukmo Yogyakarta yang masih tampak kokoh walau terlihat kusam.

"Perkenalkan Mas, ini anak-anak yang mendapat beasiswa dari Sampoerna Foundation di Yogyakarta," tutur Hendri B Satrio, staf Media Relation SF yang mengantar saya dari Jakarta. Di antara mereka, ada yang studi di SMU, sedang mengambil S-1 dan ada sebagian S-2. Walau mengambil jenjang berbeda, ada satu kesamaan mereka, yaitu pintar dalam studi dan tentunya kurang beruntung dalam bidang finansial.

"Ini posko mereka," ujar Hendri sembari menunjuk salah satu sudut lobi hotel, beralaskan dua lembar tikar, teronggok beberapa kardus berisi air mineral dan mi instan yang akan disumbangkan serta sebuah komputer guna mendata jumlah barang.

"Kita berada di sini, untuk mencari rekan-rekan anggota SF yang hilang kontak," terang Septina Nuralia, 21, Presiden Yogya Sampoerna Fundation Scholarship (JSFC), tempat perkumpulan anak-anak yang mendapat pensiun dari SF. Menurut Septina, sebagai Presiden JSFC, ia khawatir akan semangat belajar ratusan sahabatnya itu. Dengan gempa, rumah dan buku rusak, kerabat mungkin luka atau malah meninggal.

Tentunya hal ini bisa menjadi kendala atau malah trauma. "Nilai mereka bisa anjlok, padahal beasiswa SF tergantung dari nilai mereka," ujarnya prihatin. Walau dilanda duka, karena sebagian dari mereka tentu mendapat efek dari gempa, mereka tampak ceria.

Salah satu yang menarik dalam pengamatan Media Indonesia adalah Eko Suwarti, 19, salah seorang penerima beasiswa SF yang turut serta aktif dalam kegiatan. Sepintas tidak terlihat perasaan sedih di raut wajahnya. Sebagian rumah Suwarti di Desa Ngadipuro, Kabupaten Bantul, rata dengan tanah. Nenek yang dicintainya, yang berada di desa sebelahnya, meninggal.

Yang paling membuat diri Suwarti sempat shocked adalah saat di kampus, ia menerima kabar bahwa kekasihnya juga turut menjadi korban gempa. "Awalnya aku malas belajar. Harapanku terasa sirna. Wajah Mas Toto (pacar Suwarti) yang selalu membantu saya dalam empat tahun selalu terbayang. Tapi aku tidak bisa begini terus. Aku mesti terus berjalan demi masa depan, demi pengorbanan Mas Toto dan keinginan kuat membahagiakan kedua orang tua saya," ujar Suwarti.

Buat Suwarti, kecepatan berupaya bangkit mutlak diperlukan. Bagaimana tidak, ayahnya Suprono, 49, hanya buruh dan ibunya tidak bekerja. Jelas tidak masuk akal, kedua orang tuanya membiayai kuliahnya yang kini sedang menempuh semester II di Fakultas Teknik Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Indeks prestasi (IP) saya semester I untungnya sudah 3,55. Tapi tidak tahu untuk semester sekarang. Perasaan takut sih ada, beasiswa kan disyaratkan IP tidak boleh kurang dari 3,00 dan harus lulus dalam empat tahun. Aku harus terus berusaha walau harus belajar di dalam tenda dengan hanya diterangi lilin," tutur Suwarti lirih. Saat berkeliling ke berbagai sekolah di Yogyakarta dan Klaten, semangat serupa juga dapat dijumpai pada anak-anak sekolah di sana.

Ketika Media Indonesia berkunjung ke SD Petir I, Desa Srimortani, Piyungan, Yogyakarta, tampak anak-anak SD dengan tekun menyimak apa yang diajarkan oleh gurunya. Dengan jumlah murid 234, mereka terpaksa belajar di dalam tenda. Satu tenda dibagi menjadi dua kelas, dengan dua murid saling membelakangi. Ketika Media Indonesia berkunjung ke SMP I Prambanan, Jawa Tengah, pemandangan serupa pun nyaris sama, sekolah tenda dan tembok yang runtuh.
 
 

 

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.