Untitled Document
'Final exam ends hopes of higher education'

Jakarta (The Jakarta Post: 11/07/06) Kontroversi mengenai ujian akhir nasional dari pemerintah untuk siswa sekolah lanjutan terus bergema. Banyak pengamat, orang tua dan para siswa menggap ujian tidak adil.
Sebagai bukti, para pengkritik menunjukkan bahwa banyak siswa yagn cerdas dan telah diterima masuk di universitas gagal dalam ujian. Terkait datangnya tahun ajaran baru, Jakarta Post menanyakan pada masyarakat terkait pandangan mereka tentang isu ini.

Astri Wahyuni, 25, karyawan bagian CSR dari sebuah perusaahan swasta, tinggal bersama suaminya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan:

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan kebijakan pemerintah tentang ujian akhir untuk siswa SMA.
Standar tinggi yang diminta pada ujian nasional tidak didukung oleh sistem pendidikan yang solid. Kurikulum di sekolah-sekolah berbeda dan banyak dari sekolah di negera ini tidak mempunyai perlengkapan dan materi yang memadai.

Jika pemerintah ingin meningkatkan standar pendidikan dengan menaikkan standar ujian nasional, pertama kali harusnya di susun dulu sistem pendukung yang diperlukan. Sebagaimana bisa kita lihat, kenyataaannya adalah bahwa banyak murid tidak bisa memenuhi standar dari ujian nasional karena targetnya terlalu tinggi.

Pemerintah harusnya memahami bahwa meningkatkan kualitas pendidikan tidak bisa dilaksanakan secara instan. Pemerintah harus membenahi keseluruhan sistem, yang mana akan memerlukan banyak waktu dan usaha. 

Untung, 48, pegawai negri, tinggal bersama keluarganya di Bojong Gede, Bogor:

Saya rasa pemerintah harus membatalkan ujian nasional karena tidak ada gunanya bagi siswa. Sebaliknya ujian nasional malah menghambat siswa mencapai cita-cita mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pilihan mereka, hanya karena mereka gagal dalam ujian nasional.

Murid-murid cerdas yang sudah diterima di universitas kini harus ikut ujan persamaan, yang membuat orang tua harus mengeluarkan uang lagi. Menurut saya ujian nasional dan ujian persamaan hanya dirancang pemerintah untuk mencari uang.

Bila pemerintah ngotot untuk mempertahankan ujian nasional, maka jumlah mata pelajaran yang diujikan harus ditambah. Tiga mata pelajaran membatasi kesempatan siswa untuk lulus. Seharusnya paling sedikit ada lima hingga tujuh mata pelajaran yang diujikan.

Selain itu diperlukan suatu lembaga independen untuk menyelenggarakan ujian seperti di Amerika ada lembaga yang menyelenggarakan SAT atau TOEFL. Siswa dapat memasuki universitas pilihan mereka dengan menggunakan anggka yang didapat dari ujian tersebut..

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.