Untitled Document
Tahun Ajaran Baru yang Bikin Puyeng...

Jakarta (Kompas: 13/07/06) Baru saja beberapa pekan bernafas lega karena bisa menyelesaikan pembayaran uang sekolah hingga anak-anaknya bisa ikut ujian kenaikan kelas, Fatima (45) belakangan ini kembali terengah-engah. Belum juga libur sekolah usai, anak-anaknya kembali merengek minta uang pendaftaran ulang tahun ajaran baru 2006/2007.

Warga Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur ini tidak habis pikir mengapa biaya sekolah tidak henti-hentinya menguras pendapatan keluarganya yang tidak seberapa. Fatima berjualan minuman dengan pendapatan Rp 20.000 per hari, tidak jauh beda dengan suaminya yang cuma tukang parkir.

Alhasil, Fatimah tidak tahu harus berusaha bagaimana lagi saat anak perempuannya, Ulfa (16), yang naik kelas dua sekolah menengah kejuruan negeri di Cipinang, Jakarta Timur memaksa orang tuanya menyediakan uang Rp 200.000. Uang itu harus dibayar tunai pada Sabtu besok jika Fatima tetap ingin melanjutkan sekolah.

"Sampai sekarang saya tidak tahu bisa dapat pinjaman atau nggak. Adiknya yang naik kelas tiga SMP juga harus bayar pendafataran ulang Rp 200.000. Kepala rasanya mau pecah. Mau marah ke anak ya tidak ada gunanya," ujar ibu 11 anak ini dengan nada sedih.

Fatima hanya pasrah menyaksikan anak perempuannya yang terus merajuk. Sebagai bentuk protes terhadap ibunya yang sulit menyediakan uang sekolah, Ulfa sering tidur-tiduran di kursi depan rumahnya.
Kebingungan menyediakan uang saat menghadapi tahun ajaran baru juga dirasakan Nonon (45), korban gusuran di Kelurahan Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Pihak sekolah meminta anaknya yang naik kelas dua di sebuah madrasah tsanawiyah (MTsN) itu sebesar Rp 140.000. Uang itu untuk pakaian seragam dan kaos. "Bagaimana saya tidak stres. Pendapatan jadi tukang cuci cuma Rp 200.000 per bulan. Uang itu cuma cukup untuk bayar kontrakan rumah yang sempit sejak digusur. Mungkin saya akan pinjam ke majikan," kata Nonon yang ditemui saat mengadukan nasib mereka ke kantor Komisi Nasional HAM, Senin lalu.

Karena menjadi korban gusuran, pihak sekolah membebaskan uang sekolah Rp 71.000 per bulan sejka Februari lalu. Akan tetapi, Nonon pesimistis mampu membiayai sekolah anaknya itu hingga tamat.
Uang masuk sekolah

Sementara itu, orang tua siswa baru bukan cuma bingung mencari sekolah untuk anak-anak mereka. Kesiapan membayar uang masuk yang besarnya jutaan rupiah juga tetap harus dipikirkan supaya anak-anak mereka terjamin diterima di sekolah yang baru. Siswa baru di MTsN 2 Pamulang Kabupaten Tangerang harus membayar uang masuk sebesar Rp 1,65 juta.

Itu belum termasuk seragam sekolah. Pembayaran sebenarnya harus lunas hari Senin lalu, namun banyak di antara siswa dan orangtuanya meminta pembayaran bisa diangsur.>k /cmac=9/< Panitia penerimaan siswa baru sekolah tersebut mengijinkan pembayaran uang itu diangsur hanya sampai Agustus saja dengan syarat, mereka harus menghadap dan mendapat ijin kepala sekolah. Akibatnya, beberapa siswa terancam mengundurkan diri dari sekolah tersebut.

Menurut keterangan sekolah, uang masuk itu untuk membiayai renovasi sebagian gedung sekolah yang menghabiskan dana sebesar Rp 600 juta. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah tak cukup sehingga perlu dana tambahan.

"Belum tahu, apakah nanti bisa melunasi sisanya pada bulan Agustus. Kalau tidak, kata sekolah, anak saya harus keluar dan uang yang sudah dibayar akan dikembalikan," kata seorang ibu warga Pamulang.
Di Jakarta, para orangtua siswa baru juga kebingungan untuk menyediakan uang masuk sekolah yang diperkirakan naik dari tahun sebelumnya. Biaya untuk memasukkan anak di Sekolah Menengah Atas negeri di Jakarta bisa mencapai Rp 3 juta-Rp 6 juta.

Sejumlah orangtua mengatakan prediksi kenaikan uang amsuk siswa baru berkisar 20 persen berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. "Katanya tahun ini akan naik menjadi Rp 3 juta dari tahun sebelumnya," kata seorang ibu di salah satu SMA Negeri di Jakarta Timur.
 
 

 

 

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.