|
Jawa Timur, 17 Juli 2005. PT. H.M. Sampoerna telah mensponsori 4 SMA Negri di Jawa timur untuk mengadopsi SQIP (School Quality Improvement Program). Empat SMA Negri tersebut adalah SMAN 10 di Kotamadya Malang, SMAN 1 Pandaan di Kabupaten Pasuruan, dan 2 SMA Negri di Surabaya. Hadirnya SQIP di Jawa Timur ini ditandai dengan penandatanganan MOU di masing-masing kota. Nota Kesepahaman untuk Surabaya ditandatangani oleh Elan Merdy, Chief Operating Officer Sampoerna Foundation dengan Walikota Surabaya, Drs. Bambang Dwi Hartono, MPd. Untuk Malang, ditandatangani oleh Elan dan Walikota Malang, Drs. Peni Suparto, M.Ap, dan untuk Pasuruan ditandatangani oleh Elan dan Bupati Pasuruan, H. Jusbakir Aldjufri, SH. MM., H.
Elan, dalam sambutannya pada saat penandatanganan nota kesepahaman di Surabaya menyampaikan penghargaan kepada PT. HM Sampoerna atas komitmennya terhadap pendidikan. “Sungguh ini merupakan hal yang sangat luar biasa, PT.H.M. Sampoerna telah menghantarkan program SQIP ini di 4 sekolah di wilayah Jawa Timur. Sampoerna Foundation sangat berterima kasih kepada PT. H.M Sampoerna,” papar Elan.
Sekolah-sekolah yang terpilih dalam SQIP ini merupakan sekolah yang berada di peringkat menengah berdasarkan peringkat yang dikeluarkan dinas pendidikan daerah masing-masing. “Kami memang sengaja memilih sekolah berperingkat menengah supaya kami dan masyarakat bisa mengetahui dengan jelas peningkatan mutu sekolah tersebut setelah program berjalan. Selain itu, kami harapkan dalam waktu tiga tahun ke depan SMA Negeri terpilih dapat mengungguli sekolah berperingkat terbaik saat ini,” jelas Elan.
Selain berada di peringkat menengah, ada 5 kriteria yang dijadikan acuan dalam pemilihan sekolah, yaitu profil kepala sekolah yang merupakan pertimbangan pertama dan terbesar, disusul oleh kompetensi guru, kelengkapan fasilitas sekolah, komitmen Pemerintah, serta manajemen sekolah SQIP yang akan berlangsung selama tiga tahun ini akan memberikan pendampingan bagi sekolah terpilih dalam bentuk bantuan manajemen pengelolaan sekolah, termasuk pemantapan kurikulum, penyelenggaraan perpustakaan penunjang proses belajar, dan kegiatan ekstrakurikuler.
“Kami harap, selama tiga tahun pelaksanaan SQIP di Surabaya dan Malang sebagai kota pendidikan Jawa Timur dan di Kabupaten Pasuruan sebagai pemenang otonomi award 2006 di bidang pendidikan, program ini bisa ditiru sekolah-sekolah lain di seluruh Jawa Timur. Mudah-mudahan, nantinya sekitar 1.973 SMA dan SMK di seluruh Jawa Timur akan menjadi sekolah-sekolah yang unggul,” tambah Elan.
Sejak tahun 2001, Sampoerna Foundation telah memberikan beasiswa kepada lebih dari 200 siswa SMA di Jawa Timur. Dengan adanya program SQIP, diharapkan semakin banyak siswa tingkat SMA di Surabaya, Malang, dan Pasuruan yang mendapat akses pendidikan.
Bila melihat angka drop out di SMA-SMA se-Jawa Timur yang mencapai 17.000 orang per tahun, jumlah 200 siswa SMA yang menerima beasiswa dari Sampoerna Foundation belum seberapa. Karena itu, perlu dilakukan perluasan akses sehingga seluruh siswa SMA di Jawa Timur dapat menikmati pendidikan yang berkualitas.
Setelah 4 SMA di Jawa Timur, PT.H.M. Sampoerna menurut rencana akan membawa program SQIP ke D.I. Yogyakarta. Untuk jangka panjang, program ini akan diterapkan di 33 propinsi di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun. Sampai saat ini, program SQIP telah berjalan di 6 propinsi, yaitu Depok (Jabar), Sekayu (Sumsel), Balik Papan (Kaltim), Bukit Tinggi (Sumbar), Bandung (Jabar), dan Denpasar (Bali).
|