Untitled Document
Editorial: Prestasi Anak Indonesia

Jakarta (Indo Pos: 24/07/06) Kemarin adalah hari anak. Setiap tanggal tersebut masyarakat diajak introspeksi tentang apa saja hak-hak anak yang sudah dipenuhi, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Sering pula pada setiap hari anak dilontarkan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak anak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menegaskan bahwa bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak di Indonesia masih cukup tinggi.Tetapi, ada baiknya pula di tengah-tengah ajakan untuk merenungi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak, masyarakat diajak memberikan apresiasi terhadap prestasi sejumlah anak Indonesia dalam bidang pendidikan di kancah internasional.Misalnya, beberapa hari ini sejumlah siswa sekolah menengah meraih prestasi -merebut medali emas dan perak- dalam olimpide fisika. Pekan lalu, beberapa siswa sekolah dasar (SD) juga meraih medali emas dalam lomba matematika di Hongkong.

Apresiasi terhadap prestasi anak-anak dan para pelajar sangat diperlukan agar mereka bangga dengan prestasinya. Berbagai bentuk apresiasi juga harus diperlihatkan.
Misalnya, pemerintah perlu memberi penghargaan agar mereka merasa bahwa negaranya memberikan perhatian yang tinggi. Masyarakat pun perlu mewacanakan dan mengampanyekan prestasi-prestasi itu.Dengan demikian, mereka -para siswa yang baru meraih prestasi bidang fisika dan matametika itu- bangga dan terus bersemangat untuk selalu meraih prestasi tinggi di waktu-waktu mendatang.Dengan keikutsertaan masyarakat mengampanyekan prestasi-prestasi internasional para siswa itu, diharapkan rekan-rekan mereka mengetahui dengan jelas di kemudian hari. Dengan begitu, diharapkan mereka terdorong untuk ikut belajar dan meraih prestasi serupa di tingkat internasional. Ada tiga hal yang patut dikemukakan berkaitan dengan prestasi para siswa meraih juara lomba fisika dan matematika internasional itu.

Pertama, agar wajah-wajah anak Indonesia tidak terkesan berlepotan terus-menerus dengan bentuk keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan.Wacana kita selama ini mengenai dunia anak-anak sebagian besar masih berupa keprihatinan terhadap bentuk-bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM. Seolah-olah tidak banyak prestasi yang diraih oleh mereka. Kedua, agar pemerintah terus melakukan pembaruan dan inovasi-inovasi bidang pendidikan atau pengajaran. Dengan demikian, anak-anak Indonesia, khususnya para siswa, dapat terus mewujudkan bakat dan skill keilmuannya untuk meraih prestasi di berbagai bidang pendidikan, terutama dalam lomba atau olimpiade mata pelajaran di dunia internasional. Ketiga, prestasi-prestasi itu diharapkan menjadi kampanye internasional bahwa anak-anak Indonesia memiliki kemampuan yang setara dengan anak-anak dari negara-negara yang sudah lebih maju.

Prestasi, bakat, dan kemampuan anak-anak Indonesia tidak seburuk atau sebodoh yang dibayangkan kebanyakan masyarakat negara maju. Dengan demikian, sesungguhnya kualitas diri anak-anak Indonesia tidak buruk-buruk amat.
Persoalannya ialah negara dan masyarakat sering tidak dapat memelihara atau bahkan tidak mampu mengembangkan prestasi anak-anak menjadi produk iptek yang dapat memajukan negerinya. Misalnya, ketika anak-anak itu memperoleh kesempatan belajar di negara lain, justru mereka tidak pulang kembali. Mereka digaet dan mendapat pekerjaan di negara lain karena memperoleh insentif yang lebih baik.

Akibatnya, selain ilmu dan prestasi mereka tidak bisa dimanfaatkan untuk memajukan negerinya, sangat mungkin prestasi mereka akan dilupakan masyarakat. Bahkan, yang menikmati hasil prestasi anak-anak bukan negara dan bangsanya, melainkan negara dan bangsa lain. Dengan demikian, prestasi-prestasi itu tidak menjadi inspirasi yang dapat mendorong generasi yang lebih baru untuk meraih prestasi serupa di masa-masa berikutnya.

 

 

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 33.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.