| Editorial: Sekolah Bukan Pabrik |
|
Jakarta (Kompas: (12/11/07) Protes rencana ujian nasional tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah/sekolah luar biasa terus terjadi. Pemerintah mengambil jalan tengah. Kelulusan peserta UN tahun 2008 SD/MI diserahkan kepada sekolah. Baru pada tiga tahun ke depan, kelulusan UN SD/MI ditetapkan sesuai standar nasional. Sistem ujian SD/MI tahun 2008 dinamakan ujian nasional yang terintegrasi dengan ujian sekolah (untus). Ini adalah jalan tengah, mempersiapkan sekolah beradaptasi dengan UN yang menetapkan peserta didik harus lulus Matematika, IPA, Bahasa Indonesia.
Jalan tengah itu diharapkan menghentikan protes penyelenggaraan UN tingkat SD setelah pemerintah bersikeras pantang mundur dan menyelenggarakan UN jenjang SLTP dan SLTA. Protes selama ini berisi UN tidak bisa dipakai untuk memetakan kondisi praksis pendidikan. UN hanya memotret sesaat, apalagi kemudian ternyata siswa didril dengan tiga mata pelajaran yang diujikan nasional—sebab sekolah mengharapkan sebanyak mungkin lulus. Pemetaan mesti ditempatkan dalam konteks proses dan bukan diorientasikan pada hasil saja. Menempatkan hasil belajar terbatas dari UN, padahal praksis pendidikan adalah sebuah tujuan, penyelenggaraan dan hasil, ibarat menempatkan sekolah sebagai pabrik. Sebagai pabrik, yang dipentingkan adalah hasil produksi, tidak terlalu memerhatikan proses. Dalam konteks pabrik, sekolah lewat guru membentuk murid sesuai dengan standar (nasional) yang ditetapkan. Pola pikir sekolah sebagai pabrik menelurkan kebijakan-kebijakan dengan orientasi hasil, bukan proses. Praksis pendidikan tidak menempatkan sekolah, pertemuan didaktik guru dan murid lewat belajar-mengajar di sekolah. Konsep-konsep pendidikan seperti berorientasi pada anak didik, pendidikan yang membebaskan dan demokratis, tinggal menjadi jargon, ditinggalkan dalam praksis pendidikan ala pabrik.
Pendekatan sekolah sebagai pabrik dengan ciri utama berlakunya standar baku membuat praksis pendidikan hanyalah sarana mencapai tujuan. Sebaliknya bagaimana tujuan tercapai tidak diperhatikan, termasuk praktik curang, komersialisasi, suap-menyuap, juga mendrilkan beberapa mata pelajaran yang diujikan nasional dengan sasaran lulus. Dalam bobot lebih ringan, praktik demikian, kalaupun bukan sebuah proses produksi pabrik, setidak-tidaknya praksis pendidikan menjadi ibarat bimbingan studi. Paradigma sekolah sebagai pabrik perlu diganti paradigma baru, yakni terbuka terhadap masukan baru, dan tidak berpegang pada hukum rimba "pokoke"! |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






