Media dan Acara
Media Coverage
Guru profesional itu terlahir atau dididik? | Guru profesional itu terlahir atau dididik? |
Halaman 1 dari 3 Jakarta (The Jakarta Post: (27/11/07) Sekitar 1.000 guru dari penjuru tanah air akan berpartisipasi dalam Konferensi Guru Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27-28 November di Jakarta. Sepuluh guru yang terpilih akan mempresentasikan makalah mereka pada sesi paripurna di konferensi itu (Jakarta Post, 15 November).
Acara ini membutuhkan dukungan dari masyarakat umum terkait bahwa para guru kini sedang menuju ke suatu paradigma baru yang melihat pengajaran sebagai suatu pekerjaan yang professional. Kita perlu menyadari bahwa banyak guru, jika bukan mayoritas, di negeri ini belumlah memiliki standar professional. Menikmati kegiatan mengajar adalah penting, tetapi menjadi guru professional memerlukan sesuatu yang lain lagi. Mengajar adalah perkerjaan yang begitu sulit dan penuh tuntutan, tapi sayangnya mereka yang mempunya profesi ini tidak dibekali pelatihan yang memadai. Belum lagi, mereka sering kekurangan dukungan dari orang tua dan masyarakat, yang merupakan stakeholder lain dalam dunia pendidikan nasional. Disamping peran penting mereka, para guru pada umumnya ada di ranking bawah dalam strata sosio ekonomi, dan lebih dari semua itu, mungkin, mereka kekurangan kesempatan untuk berkembang. Kami gembira mendengar bahwa tujuan dari konferensi ini adalah untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, serta rasa percaya diri para guru dalam mengekpolrasi pendekatan baru untuk mengajar, sebagaimana dikatakan oleh Kenneth J Cock, director dari Sampurna Foundation Teachers Institute yang menangani konferensi ini. Lebih lagi, kita bisa belajar dari negara-negara maju tentang bagimana untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Para guru Amerika, China, dan Jepang menyatakan bahwa mereka sengaja memilih guru sebagai sebuah profesi. Mengapa mereka memilih karir di bidang pengajaran sebagai pilihan pertama? Alasan yang mendasar adalah karena kebudayaan di tiga negara itu menghormati mereka yang punya perhatian pada anak-anak. Gaji, kebanggaan, kondisi kerja, dan liburan musim panas dilihat sebagai hal yang kurang penting. Para guru semata-mata mencintai mengajar anak-anak.
|
|||||
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






