Menu Utama arrow Media dan Acara arrow Media Coverage arrow Pemeritah berharap bisa menarik para guru ke daerah-daerah terpencil
Untitled Document
Pemeritah berharap bisa menarik para guru ke daerah-daerah terpencil
Jakarta (The Jakarta Post: (28/11/07) Pemerintah akan mendorong para guru untuk berkarya di daerah-daerah terpencil di Indonesia dengan menyediakan sejumlah insentif bagi mereka, kata seorang pejabat tinggi pendidikan Selasa lalu. “Kami menantang para guru untuk mengajar murid-murid di daerah terpencil. Pemerintah akan menyediakan tunjangan kusus sebagai tambahan untuk gaji bulanan para guru yang bersedia,” kata sekretaris untuk dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Depdiknas Giri Suryatmana.Dia menyatakan hal itu pada konferensi press Konferensi Guru Indonesia 2007.

Konferensi dua hari yang didanai oleh  Sampoerna Foundation Teachers Institute, kementrian pendidikan serta Provisi Education ini, mengundang 1.000 guru dari penjuru Indonesia untuk saling berbagi pengalaman pada hari Selasa dan Rabu di Balai Kartini di Jakarta Selatan. Giri mengatakan pada para guru dan wartawan bahwa “seorang guru yang baik tidaklah terlahir tetapi dididik” dan dia kembali menyatakan komitmen pemerintah untuk mewujudkan “pendidik yang professional dan sejahtera.”

“Pemerintah akan memberikan prioritas yang lebih tinggi bagi para guru di daerah terpencil untuk mengakses beasiswa dan pelatihan pengembangan guru,” lanjutnya.  Saat ini ada sekitara 2,7 juta guru di Indonesia – jumlah yang terbesar di ASEAN – tapi kebanyakan dari mereka masihlah terkonsentrasi di kota-kota besar. Idealnya, setiap guru bertanggungjawab untuk mengajar 15 murid saja, tetapi distribusi guru yang tidak merata di Indonesia membuat hal ini tidak memungkinakan untuk dicapai.

Seorang guru matematika dari SMAN 7 di Manado, Sulawesi Selatan, Marly Pandelaki, berkata pada The Jakarta Post bahwa dia senang dengan tantangan pemerintah tersebut.  ”Ini hanyalah masalah waktu saja bahwa kesenjangan antara pendidikan lokal dan daerah dipersempit. Saya telah memikirkan bahwa pemerintah semestinya merancang suatu kebijakan untuk memastikan para guru bisa terdistribusi secara merata di Indonesia,” kata Marly, yang adalah seorang finalis dalam kompetisi guru nasional terbaik tahun 2004.

Dia memuji konferensi itu, yang pertama kalinya digelar tahun 2006, seraya mengatakan bahwa dia telah mendapatkan banyak hal dari kehadirannya pada hari pertama. “Saat anda mengajarkan sebuah mata pelajaran seperti matematika,” katanya,” perlulah untuk selalu mengembangkan diri anda sendiri sebagai seorang manusia. Mata pelajaran ini, jelas-jelas, membosankan, jadi janganlah Anda menjadi membosankan juga.”

Panitia mengharapkan bahwa konferensi ini akan dapat membantu mengembangkan kompetensi dan professionalism para guru Indonesia di tahun-tahun mendatang. ”Kami berharap bahwa setelah menghadiri konferensi ini, para guru akan memiliki  posisi tawar-menawar yang lebih tinggi dalam profesi mereka,” kata Kenneth Cock,  Direktur Sampoerna Foundation Teacher Institute.Dia menambahkan bahwa konferensi tahun ini mengeksplorasi hubungan antara pendidikan dan komunitas,  dengan topik basahan semacam program pengembangan guru berbasis komunitas dan pengembangan komunitas pendidikan.

 

Tentang SF

Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).

Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.