Publikasi
Media Coverage
Para pendidik perlu dukungan untuk pembelajaran lanjutan | Para pendidik perlu dukungan untuk pembelajaran lanjutan |
|
Jakarta (The Jakarta Post: (29/11/07) Hampir 1.000 orang guru yang menghadiri Konferensi Guru Indonesia 2007 kemarin menemukan fakta bahwa mereka tidaklah ketinggalan dari negara lain dalam hal pengetahuan teoritis tentang metodologi pendidikan, tetapi apa yang kurang bagi mereka adalah dukungan dari segala lapisan masyarakat.
Setelah mendengarkan para pembicara lokal dan luar negeri, Lili Hujulia, 45 tahun, seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 7 di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan walaupun mereka menyampaikan “banyak ide yang sungguh hebat” untuk pengajaran, semua itu bukanlah hal yang baru baginya. “Saya tidak bisa mengaplikasikan itu semua tanpa dukungan dari kepala sekolah, orang tua murid, dan guru-guru lain serta para murid sendiri… Itu bukanlah bagian dari kultur pendidikan di Indonesia,”katanya. “Ide untuk pelajaran di luar ruang kelas, misalnya, sudahlah beredar cukup lama,” katanya, mengomentari sebuah presentasi tentang pelajaran melalui proyek pengembangan masyarakat yang diorganisir oleh the School for Life di Thailand Utara, yang didukung oleh Raja Thailand. Dia menambahkan bahwa walau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah memberikan ruang yang lebih bagi para guru untuk mendesain sesi pembelajaran kreatif dan inovatif mereka sendiri, dia ragu bahwa dia mampu mengadopsi ide dari ‘belajar diluar ruangan kelas’ di sekolahnya. “Saya belum menerapkanya karena kurangnya dukungan,” katanya. Guru bahasa yang lain, Yuyu, dari SMAN 106 di Jakarta Timur mengatakan, “Para pembicara mempunyai point yang sungguh menarik, tetapi tidak ada sesuatu yang benar-benar baru.” “Sekolah kami telah terlibat dalam proyek pengembangan masyarakat selama beberapa tahun, jadi baguslah untuk mengetahui bahwa orang-orang lain juga berjuang untuk hal yang sama,” katanya. Sebagai seorang guru yang telah bekerja 12 tahun, Yuyu menyatakan keyakinannya bahwa dia akan bisa mengaplikasikan ide-ide praktis yang didapat dari konferensi itu. “Suatu presentasi yang diberikan kemarin (Selasa) mempertegas bahwa para guru bisa mengitegrasikan ketrampilan hidup mereka dengan kurikulum tanpa biaya yang tinggi,” katanya. Sugeng Handayani, kepala sekolah dari KPS Nasional Sekolah Menengah Pertama di Balikpapan, Kalimantan Timur, menyatakan bahwa dia sangat tertarik dalam penerapan standar internasional di sekolahnya. “Setiap sekolah, saya pikir, ingin untuk mencapai standar internasional,” katanya setelah menjelaskan bahwa sekolahnya sudah menyertakan trend-trend terbaru di bidang tekhnologi, seperti internet dan multi-media.
Dalam sesi kuliah “A School of International Standard", yang disampaikan oleh Helen Morschel dari Sekolah Dasar Ciputra, diungkap bahwa “standar internasional” tidaklah berarti sekolah harus mengatur pertukaran luar negeri, menggunakan alat peraga pengajaran yang mahal, atau mempunyai departemen bahasa asing yang kuat. Dia menyarankan para guru untuk meninjau kembali kurikulumnya, mengubah lingkungan kelasnya, dan menyesuaikan dengan apa yang para murid perlukan untuk bisa bertahan hidup di dunia ini dalam kurun waktu 10 sampai 20 tahun lagi. Sekolah dengan standar internasional, kata Morschel, memerlukan kurikulum yang seimbang, para guru yang berwawaasan internasional dan pendidikan yang menghargai kebesan serta resolusi konflik, dan juga penghargaan untuk budaya dan lingkungan. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






