| Pengabdian tanpa Pamrih di Puncak Meratus |
|
Jakarta (Media Indonesia: (02/12/07) WAJAH belasan bocah terlihat ceria ketika menyantap hidangan makan siang mereka di sebuah rumah kayu di puncak Pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Siang itu, sebanyak 32 murid Sekolah Dasar (SD) Kecil Wayuwanin itu baru saja selesai mengikuti pelajaran di sekolah yang sekaligus menjadi tempat tinggal (asrama). Para murid terpaksa tinggal di sekolah, di Dusun Wayuwanin, karena rumah mereka sebagian besar berada jauh di dalam hutan Pegunungan Meratus.
Bangunan sekolah hanya berupa dua ruang berbentuk rumah panggung dari kayu yang selesai dibangun pemerintah kabupaten (pemkab) setempat dua tahun lalu. Di sekolah itu, juga tidak ada aturan resmi layaknya sekolah di perkotaan. Para murid yang terdiri dari suku Dayak dengan kehidupan sangat miskin dan terbelakang tidak harus mengenakan seragam, sepatu, atau memiliki alat tulis tertentu. Yang mereka miliki semuanya sederhana. Di Puncak Meratus, pendidikan baru ada tiga tahun terakhir. Sebelum ada bangunan, proses belajar-mengajar dilakukan secara sederhana di alam terbuka. ''Kami hanya menargetkan para murid bisa baca, tulis, dan berhitung,'' kata Raihan, 30, salah satu dari empat guru kontrak yang mengajar di wilayah terjauh Pegunungan Meratus tersebut. Keempat guru itu mengajar bergiliran. Dua orang di antara mereka mengajar dua pekan pertama, dua lainnya mengajar dua pekan berikutnya. Begitu seterusnya. Untuk menjangkau sekolah ini pun tidak mudah. Raihan dan rekan-rekan yang dikontrak dengan honor Rp1.250.000, ditambah tunjangan Rp300 ribu per bulan oleh Pemkab Balangan, harus berjalan kaki selama lebih kurang 18 jam dari ujung desa, tempat terakhir yang bisa dijangkau kendaraan roda dua. Sepanjang perjalanan berikutnya mereka harus melintasi gunung, hutan belantara, sungai, dan ngarai. Bagi Raihan, menjalani profesi sebagai guru di daerah terpencil merupakan tantangan. Dia hanya berharap upayanya bisa mengubah kehidupan suku Dayak kelak. Setiap berangkat mengajar, para guru selalu membawa bekal berupa kebutuhan pokok untuk persediaan selama dua minggu, termasuk untuk kebutuhan makan puluhan murid mereka. Pengabdian tanpa pamrih itu juga dilakukan 16 guru lainnya yang mengajar di tujuh lokasi terpencil di belantara Pegunungan Meratus. Bahkan, Hadi, 28, guru di SD Kecil di Desa Hampang, merupakan lulusan S-2 ilmu pendidikan dari Pulau Jawa. Dua tahun terakhir lelaki itu setiap hari harus menempuh perjalanan dua jam dengan sepeda motor ditambah satu setengah jam berjalan kaki untuk memberi pelajaran kepada 20 muridnya.
Hal yang tidak jauh berbeda dilakukan guru-guru lainnya yang mengajar di SD Kecil wilayah lain, yaitu Desa Pasiratan Pinggar, Hampatan Nanai, Raranum, Rantau Paku, dan Libaran. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan Edi Yulianto mengatakan pembangunan SD Kecil di tujuh daerah merupakan salah satu cara untuk mengentaskan anak usia sekolah suku Dayak di pedalaman Meratus dari kurangnya pendidikan. Dia yakin, dengan cara ini pula penuntasan wajib belajar bagi mereka bakal tercapai. ''Saat ini ada sekitar 2.000 warga suku dayak di pedalaman yang belum mengecap pendidikan,'' katanya. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






