Publikasi
Media Coverage
Konferensi Guru 2007: Interaksi merangsang minat | Konferensi Guru 2007: Interaksi merangsang minat |
|
Jakarta (The Jakarta Post: (09/12/07) Jika kita bertanya pada murid tentang mata pelajaran apa yang paling tidak mereka sukai, nampaknya akan banyak yang menjawab, “Matematika.” Para siswa sangat tidak menyukai mata pelajaran ini karena mereka tidak memahami rumusan matematika dan bagaimana cara kerjanya. Beberapa yang lain membencinya karena mereka tidak suka dengan cara para guru mengajarkannya di kelas. Isu terkait dengan mata pelajaran yang paling banyak dibenci ini mengemuka pada sebuah seminar dalam Konferensei Guru Indonesia 2007, yang digelar pada tanggal 27-28 November di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Konferensi itu, yang bertemakan “Better Community Through Better Education”, digelar oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute, Provisi Pendidikan, dan kementrian pendidikan nasional. Para guru matematika sering digelari guru “killer”, yang sering gampang marah pada murid, dan yang memberikan nilai jelek pada saat ujian. Mereka dikenal hanya sering bicara dan bicara saja saat memberikan pelajaran, sehingga para murid kehilangan minat mereka – keduanya baik minat pada kelas ataupun pada mata pelajaran. Dilatar-belakangi oleh menurunnya minat para siswa pada mata pelajaran matematika, sekelompok guru dari SDN Panggang 02 di Jepara dan dari Fakultas MIPA di Universitas Negeri Semarang, keduanya di Jawa Tengah, telah mengembangkan suatu metode pembelajaran yang interaktif. “Matematika adalah aktifitas manusia, jadi proses pembelajaran pun haruslah mulai dengan aktifitas,” Zaenuri Mastur, dosen senior di UNNES, mengatakan pada para guru pada salah satu sesi di Konferensi Guru Indonesia 2007. Zaenuri mengatakan bahwa mengajarkan matematika di kelas haruslah dengan proses interaktif yang melibatkan para murid. Peran serta murid dalam proses pembelajaran akan mendorong mereka untuk melihat bahwa mata pelajaran ini menarik, relevan, dan penting. Zaenuri menampilkan hasil dari apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan di SDN Panggang 02. Dalam penelitiannya, dia menyuruh para siswa tingkat 5 untuk mengukur diameter dan keliling dari setiap obyek lingkaran yang ditemukan para murid di sekolah itu. Aktifitas ini ditujukan untuk menghitung pi, rasio keliling pada diameter. Para murid berlomba-lomba untuk menemukan obyek lingkaran begitu mereka keluar dari ruang kelas. Beberapa murid memilih tutup tempat sampah, potongan ruas bambu, atau roda sepeda motor guru mereka. Sesudah para murid menyelesaikan kegiatannya, mereka disuruh untuk menuliskan komentar mereka. “Akhirnya, para murid gembira dengan proses pembelajaran interaktif ini,” kata Zainuri, dan aktifitas ini meningkatkan minat para murid di bidang matematika. Penelitian Zaenuri adalah salah satu dari puluhan presentasi yang disampaikan pada konferensi dua-hari tersebut, yang melingkupi cakupan yang luas pada isu pendidikan, dari pengembangan kapasitas guru sampai dengan metode pembelajaran alternatif yang dilakukan di sekolah menengah pertama Qaryah Thayyibah di desa Kalibening di Jawa Tengah, dan dari pentingnya kegiatan membaca hingga pengembangan memori dengan menggunakan warna. Lusia Gayatri Yosef, seorang ahli psikologi pendidikan, mempresentasikan sebuah makalah tentang efektifitas dari gambar dan kata dalam pembelajaran bahasa Inggris bagi para siswa tingkat 6. Dari hasil penelitiannya, Lusia menyimpulkan bahwa para murid yang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris yang diajarkan dengan materi visual mampu mengingat kosa-kata lebih baik daripada para murid yang mengikuti kelas tanpa menggunakan peraga visual. Lusia lantas menyarakankan para guru bahasa Inggris untuk menggunakan gambar-gambar yang bisa ditemukan di Internet.
Kenneth J. Cock, direktur dari Sampoerna Foundation Teacher Institute, dan juga ketua dari panitia konferensi ini, mengharapkan bahwa acara ini akan dapat merangsang para guru untuk mengembangkan diri mereka, dan juga sebagai sebuah forum untuk mengungkapkan terimakasihnya pada usaha-usaha yang telah dilakukan oleh para guru di seluruh pelosok negeri. “Hanya sedikit orang memahami peran para guru dalam usahanya untuk memajukan negeri ini,” katanya. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






