| Tinggi, Buta Aksara Usia Produktif |
|
Jakarta, Kompas (27/12/07): Warga usia produktif yang buta aksara di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik dan Departemen Pendidikan Nasional, warga buta aksara berjumlah 18,1 juta orang, sekitar 4,35 juta orang di antaranya pada usia produktif 15-44 tahun.
Adapun warga berusia di atas 45 tahun yang buta aksara mencapai 13,4 juta orang, sedangkan warga berusia 10-14 tahun yang buta aksara berjumlah 336.785 orang. "Dari total warga buta aksara ini, lebih dari 70 persen di antaranya perempuan," kata Sujarwo Singowidjojo, Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Rabu (26/12). Menurut Sujarwo, untuk memberantas buta aksara ini, pelaksanaannya diintegrasikan dengan pemberdayaan ekonomi. Pendekatan ini dilakukan agar warga buta aksara yang umumnya berasal dari kalangan ekonomi lemah itu tidak sekadar bisa membaca, menulis, dan menghitung, tetapi juga bisa terangkat martabat kehidupannya. Kendala untuk pemberantasan buta aksara di Indonesia yang utama, kata Sujarwo, adalah faktor ekonomi. Masyarakat yang menjadi sasaran program pemberantasan buta aksara sebenarnya mau belajar, tetapi terhalang oleh kewajiban bekerja untuk mendapatkan uang bagi keluarga. Kendala lain adalah faktor usia, di mana banyak yang merasa tidak perlu lagi untuk belajar. Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara tahun 2004, anggaran program ini meningkat drastis di APBN. Pada tahun 2004 hanya dialokasikan Rp 80 miliar, sedangkan tahun 2007 mencapai Rp 567 miliar. Alokasi dana umumnya masih difokuskan untuk pemberantasan buta aksara dengan mengajarkan kemampuan membaca, menulis, dan menghitung. Tahun 2009 ditargetkan jumlah warga buta aksara di Indonesia turun 50 persen menjadi sekitar sembilan juta orang. Dessy Sekar Astina, Direktur Program Forum Indonesia Membaca, mengatakan, melek huruf dapat ditingkatkan dengan menyediakan sumber bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perpustakaan atau taman bacaan masyarakat yang ada perlu dihidupkan. (ELN) |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






