| Arah Pendidikan masih Disibukkan Iptek |
|
Jakarta (Media Indonesia: (07/01/08) Indonesia masih sulit mencapai dan menciptakan 'generasi platinum' jika arah pendidikan masih disibukkan dengan pengejaran pada ilmu pengetahuan dan keterampilan saja. Jika ingin menjadi 'generasi platinum', langkah yang penting dalam kebijakan pendidikan di Indonesia tidak hanya pada pengejaran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tetapi juga memiliki lima syarat lain, agar menjadi generasi berpendidikan, berbudaya, dan beradab."Kelima syarat itu yakni mempunyai wawasan keagamaan yang tangguh, nasionalisme yang baik, keterampilan hidup yang praktis, kepribadian yang kreatif dan energik, serta punya wawasan global dan berorientasi internasional," ujar guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Arief Rachman kepada Media Indonesia, di Jakarta, Sabtu (5/1).
Menurut Arief, sebenarnya generasi Indonesia bisa mencapai 'generasi platinum' jika pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dapat menjalankan kebijakan pendidikan secara konsisten."Sebenarnya, blue print Depdiknas sudah cukup baik, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), ada pendidikan akhlak mulia dan pendidikan kepribadian, namun dalam praktiknya, tidak konsisten," jelas Arief. Namun Depdiknas tidak konsisten, ujar Arief, karena banyak arah kebijakan pendidikan yang mengabaikan akhlak mulia, budi pekerti, dan falsafah kebangsaan. "Misalnya saja, tingkat kelulusan siswa yang lebih memerhatikan dari sisi pengetahuan kognitif saja, yakni hanya ujian nasional (UN)," ujar Arief. Belum lagi, lanjutnya, perhatian pemerintah pada lomba-lomba skala internasional yang lebih memerhatikan prestasi siswa di bidang ilmu-ilmu terukur atau sains. "Sementara itu, untuk prestasi siswa di bidang seni dan budaya kurang diperhatikan," ucapnya.
'Generasi platinum' merupakan terminologi yang diberikan psikolog dari Universitas Paramadina Jakarta, Alzena Masykouri, bagi anak-anak yang dilahirkan pada tahun 2000 ke atas, atau pada awal abad ke-21. Mereka diidentikkan dengan anak-anak dengan kecerdasan lebih karena dekat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelumnya, Arief mengatakan besarnya angka kekerasan terhadap siswa di sekolah disebabkan kelabilan mental pendidik. Namun, jumlah kasus kekerasan itu bukan merupakan cerminan dari keseluruhan sikap dan perilaku guru sesungguhnya."Guru yang melakukan kekerasan terhadap siswa itu mentalnya tidak stabil dan seharusnya tidak boleh mengajar di kelas," kata praktisi pendidikan Arief Rachman kepada Media Indonesia, di Jakarta, kemarin. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






