Publikasi
Media Coverage
Filantropi Belum Terpetakan. Kesadaran Tinggi, Dana Melimpah | Filantropi Belum Terpetakan. Kesadaran Tinggi, Dana Melimpah |
|
Jakarta (Kompas: (16/01/08) Potensi dana dari kegiatan filantropi atau kedermawanan sosial masyarakat sebenarnya cukup besar dan potensial untuk membantu pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, filantropi masih dilakukan tanpa koordinasi dan tidak berkesinambungan. Akibatnya, kontribusi filantropi untuk pemecahan masalah-masalah sosial, masalah kemanusiaan, dan lingkungan hidup belum maksimal. "Sumber daya filantropi di Indonesia sebenarnya cukup besar. Banyak perusahaan mulai berorientasi melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR). Media massa juga tumbuh menjadi media filantropi yang menggalang dana kemanusiaan dari masyarakat. Juga ada dana dari masyarakat Islam di Indonesia yang disalurkan dalam bentuk zakat, dan sebagainya," kata Ismid Hadad, Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), di Jakarta, Selasa (15/1). Persoalannya, kata Ismid, bagaimana membuat potensi yang besar itu benar-benar tepat sasaran yang bisa membangun dan memberdayakan masyarakat sehingga tidak menimbulkan ketergantungan kepada donor. Sementara lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat yang butuh pendanaan, pada umumnya mengandalkan bantuan luar negeri. Kini PFI berupaya untuk bisa menjadi fasilitator yang mempertemukan kepentingan pemberi/donor, penerima, dan lembaga perantara. Upaya yang dilakukan misalnya memfasilitasi program kerja sama perusahaan dengan LSM serta lembaga amal zakat dengan LSM. Erna Witoelar, Duta Besar Khusus PBB bagi Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), mengatakan, sebenarnya alokasi dana untuk masalah-masalah sosial dari pemerintah ditambah lagi sumber daya dari filantropi masyarakat bisa untuk mengatasi persoalan mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, dan kesehatan. Pada kenyataannya, dana yang besar itu belum juga terasa manfaatnya pada masyarakat yang dibantu karena program yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat dan tidak berlangsung secara berkesinambungan ke arah pemberdayaan masyarakat. Erna mengatakan, tahun 2003 saat penguatan filantropi di Indonesia dimulai, baru sekitar 30 perusahaan yang bergabung. Dalam lima tahun ini, semakin banyak perusahaan yang tergerak untuk menjadi pelaku filantropi. Pascatsunami Aceh, kedermawanan sosial dan kerelawanan masyarakat tercatat semakin meningkat. "Dalam pencapaian MDGs Indonesia soal kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan (keadaannya) sangat berat. Padahal, kita punya resources (sumber daya)- nya. Dan ke depan, dunia ini menghadapi tantangan baru akibat perubahan iklim dan bencana yang semakin sering terjadi. Menghadapi ini butuh keseriusan semua pihak untuk mau bekerja sama," kata Erna.
Sapto Sakti, Direktur Komunikasi Sampoerna Foundation, mengatakan, perusahaan-perusahaan yang baru melakukan CSR umumnya memilih cara yang mudah dengan melakukan charity atau amal. Akan tetapi, dalam perkembangannya, perusahaan tersebut biasanya lebih memilih melaksanakan program-program yang bermanfaat dan bersifat memberdayakan masyarakat. Sebagai gambaran potensi filantropi, dari lembaga seperti Dompet Dhuafa saja, pengumpulan dana ZISWAF 2006, yakni zakat, infak, kemanusiaan, kurban, dan wakaf, bisa tercatat senilai Rp 59 miliar lebih. Belum lagi dana masyarakat yang terkumpul dari lembaga amil zakat yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, atau CSR perusahaan-perusahaan, dan sebagainya. |
Tentang SF
Sampoerna Foundation (SF) adalah organisasi filantropi profesional yang berdedikasi pada pengembangan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 2001, SF telah memberikan lebih dari 30.000 beasiswa, mengadopsi 22 sekolah, memberikan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah, mentransformasikan sebuah institusi pascasarjana di bidang bisnis, serta menyediakan layanan pinjaman biaya pendidikan (student loan).Kami bertekad untuk menjadi sebuah organisasi yang transparan dan bertanggung jawab dalam semua aktivitas dan pengunaan dana. Di triwulan keempat tahun 2007,Sampoerna Foundation memperoleh sertifikasi ISO 9000, sertifikat sistem kualitas manajemen yang bertaraf internasional.






