| Tentang PSF |
|
Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) selama ini sering dipahami hanya sekadar bagian kecil untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan pada masyarakat. Karena itu, program CSR banyak digulirkan hanya sebagai “pelengkap”, sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Padahal, potensi mengelola CSR, selain mampu meningkatkan citra perusahaan, juga bisa membawa manfaat berkelanjutan, baik bagi masyarakat yang dibantu, lingkungan sekitar, dan perusahaan itu sendiri. Hal inilah yang melatarbelakangi perubahan Putera Sampoerna Foundation (PSF), dari sebuah organisasi filantropi menjadi institusi bisnis sosial. Putera Sampoerna Foundation (PSF) adalah institusi bisnis sosial pertama di Indonesia yang memiliki visi untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan dan wirausahawan Indonesia yang handal demi menghadapi tantangan global. Empat pilar utama kegiatan Putera Sampoerna Foundation adalah pendidikan yang berkualitas bagi siswa Indonesia berprestasi terutama dari keluarga prasejahtera, penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan kewirausahaan, pencerahan masyarakat umum melalui pemberdayaan perempuan, serta program penyaluran bantuan dan pertolongan rehabilitasi bencana. Mengacu pada strategi besar ‘Pathway to Leadership’, Putera Sampoerna Foundation memiliki tujuan untuk menciptakan 1.000 pemimpin per tahun yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dan perubahan di komunitasnya. Dalam menjalankan kegiatannya, Putera Sampoerna Foundation didukung oleh mitra strategis antara lain Sahabat Wanita, Siswa Bangsa dan Bait Al-Kamil, serta melakukan inisiatif mendirikan badan usaha ACCESS untuk meningkatkan pertukaran pelajar dan kerjasama dengan universitas di luar negeri serta MEKAR Entrepreneur Network yang merupakan sebuah portal lengkap dan pusat pengembangan bagi kewirausahaan di Indonesia. Sejak didirikan pada 2001, Putera Sampoerna Foundation telah menyalurkan lebih dari 34.000 beasiswa, menyelenggarakan pelatihan untuk lebih dari 14.000 guru dan kepala sekolah, mengadopsi 17 sekolah negeri dan 5 madrasah. Pada 2009, Putera Sampoerna Foundation mendirikan sekolah berstandar internasional berasrama yaitu Sampoerna Academy, sekolah tinggi untuk mencetak generasi pendidik masa depan yakni Sampoerna School of Education yang sekaligus merupakan elemen pertama dari pendirian universitas bertaraf dunia, serta disusul peluncuran Sampoerna School of Business pada tahun 2010. Putera Sampoerna Foundation adalah organisasi non-profit pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008 yakni sertifikat Sistem Manajemen Mutu yang bertaraf internasional. Menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan dan akuntabilitas dalam segala aktivitasnya, Putera Sampoerna Foundation telah dipercaya oleh lebih dari 300 korporasi, organisasi maupun asosiasi untuk menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR). Secara berkala, Putera Sampoerna Foundation mengikuti audit yang dilakukan oleh pihak auditor internasional independen dan laporannya diterbitkan di buku laporan tahunan Putera Sampoerna Foundation. Konsep bisnis sosial ini berusaha mengubah pengertian pelaku bisnis dari sudut pandang “mencari profit” menjadi “membantu masyarakat luas”. Konsep ini merujuk pada gagasan Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian tahun 2006, yang menggagas gerakan Social Business. Konsep bisnis sosial difokuskan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat pra sejahtera dengan program-program yang berkesinambungan, dan pada saat yang bersamaan meningkatkan kesadaran sosial di antara pelaku bisnis. Sehingga, bisnis sosial tidak berjalan sendiri. Ia memerlukan keterlibatan semua pihak, baik dari korporasi maupun individu yang ikut peduli. Sebagai institusi bisnis sosial pertama di Indonesia, PSF berfungsi sebagai CSR operator bagi para korporasi dan individu, untuk menjalankan berbagai program yang didasari oleh empat pilar, yakni pendidikan, kewirausahaan, pemberdayaan perempuan, dan bantuan bencana. Semoga, dengan makin banyak perusahaan dan individu yang ikut peduli, pemerataan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat akan lebih meluas, terutama bagi masyarakat prasejahtera dan berprestasi. Sehingga pada akhirnya akan muncul generasi-generasi unggul yang dapat memajukan bangsa. |










